Kiat Kelola Rezeki Nomplok dalam Ilmu Psikologi Keuangan

SESI KAMIS (Keuangan Manis)  Edisi Ke-8 by Power People Community by WAG

Kamu pasti ingat kan, kasus warga desa di Tuban yang mendadak menjadi miliarder dua tahun lalu? Mereka mendadak menjadi miliarder karena tanahnya dibeli oleh Pertamina. Inilah yang dimaksud dengan mendapatkan rezeki nomplok dari hasil jual aset.

Dari penjualan lahan, masing-masing warga bisa mendapatkan ratusan juta, bahkan ada yang sampai Rp. 24 miliar karena memang punya tanah yang luas.

Namun, apa yang terjadi dua tahun berselang? Salah satu warga yang menerima Rp18 miliar, mengaku kini uang hasil penjualan lahan miliknya tinggal Rp50 juta saja. Berawal dari miliarder berujung keder. Apa penyebabnya? Tentu saja karena pengelolaan rezeki yang tidak benar.

Kisah warga salah satu desa di Tuban di atas bisa jadi salah satu bukti, bahwa tanpa didasari oleh keterampilan dan pengetahuan pengelolaan keuangan yang baik, rezeki—besar atau kecil—juga tidak akan dapat bermanfaat dengan baik.

Berbicara tentang mengelola keuangan dan rezeki nomplok, tahukah kamu kalau hal ini ada kaitannya dengan ilmu psikologi keuangan?

Morgan Housel, seorang penulis, merilis buku The Psychology of Money, menyebutkan bahwa, “Untuk menjadi seseorang yang kaya tidak perlu menjadi pintar, karena mengelola keuangan merupakan suatu soft skill.”

Lebih jauh dalam buku ini, juga ada bagian yang menyatakan bahwa kebiasaan dan karakter seseorang akan mempengaruhi bagaimana ia menggunakan uangnya dengan bijak. Nah, menarik kan?

Selain yang sudah disebutkan di atas, beberapa hal terkait psikologi keuangan dalam mengelola rezeki yang juga dijabarkan dalam buku The Psychology of Money ini di antaranya sebagai berikut.

Rich dan Wealthy adalah dua hal berbeda

Being rich tidak sama dengan being wealthy. Meskipun secara literatur dalam bahasa Inggris, kata rich dan wealth punya arti yang mirip, yaitu kaya dan kekayaan, tapi dasarnya berbeda.

Rich adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika kamu punya uang banyak dan dibelanjakan untuk membeli barang mewah, mobil, perhiasan, dan barang yang lainnya, yang dapat terlihat oleh banyak orang. Sedangkan wealth adalah kondisi ketika kamu menyimpan uangmu dalam tabungan dan investasi, yang tidak bisa dilihat oleh banyak orang.

Terasa kan, bedanya? Kedua hal ini memberikan pembelajaran bahwa menjadi kaya karena hanya ingin membuat orang lain terkesan tidak menguntungkan sama sekali. Bisa jadi, malah dapat menimbulkan masalah keuangan baru di masa depan.

Hal ini juga yang terjadi pada warga Tuban tersebut. Alih-alih membuat rencana keuangan demi pengelolaan rezeki yang lebih baik, banyak di antara mereka yang justru membeli mobil mewah sampai beberapa unit. Hanya sedikit saja yang menggunakannya sebagai modal usaha, atau setidaknya membeli mobil untuk keperluan usaha. Dari sini sudah terlihat, siapa yang ber-mindset wealthy, bukan?

Bersyukur dan merasa cukup atas rezeki yang diterima

Morgan dalam bukunya menulis ‘getting money is one thing, keeping it is another’. Memang ada banyak cara untuk bisa mendapatkan uang. Namun, untuk mempertahankan uang yang sudah kita miliki hanya ada satu cara, yaitu punya mengelolanya dengan baik. Hal ini juga bisa kita lihat pada warga desa miliarder ini, bukan? Tak banyak dari mereka yang mampu mempertahankan uang yang didapatkan.

Mengapa dua hal ini berbeda? Karena, saat kamu ingin mendapatkan lebih banyak uang, maka kamu harus merasa optimis dan berani menghadapi risiko yang ada. Sedangkan, ketika kamu ingin mempertahankan uang, kamu harus merasa “takut” akan risiko. Misalnya, takut uang menjadi habis dalam waktu sekejap, atau takut terlibat kesulitan. Hal ini akan dapat membuat kamu berhati-hati dalam menggunakannya.

Mempertahankan kekayaan lebih sulit daripada memperolehnya

Sering kali terjadi, ketika kita melakukan pengambilan keputusan keuangan dengan didasari oleh perasaan emosional, iklan, provokasi, dan yang lainnya. Hal ini tentunya tidak baik jika diterapkan dalam mengelola keuangan.

Uang seharusnya dipakai sesuai dengan kebutuhan dan keperluan, bukan karena emosi sesaat, sifat konsumtif, apalagi karena pengaruh luar.

Nah, jadi, kebayang kan ketika sejumlah warga desa di Tuban tersebuttiba-tiba mendapatkan rezeki nomplok atau uang kaget. Emosi pasti lantas mendominasi. Yang biasanya punya uang terbatas, tiba-tiba menerima uang dalam jumlah banyak. Persepsinya, dengan uang sebanyak itu, kita bisa membeli apa saja yang kita mau.

Padahal, tidak begitu.

Nah, sampai di sini, sudah mulai terlihat kan, hubungan antara psikologi dengan pengelolaan keuangan?

Dampak Buruk dari Pengelolaan Rezeki Nomplok yang Kurang Bijak

Karena tak bijak dalam mengelola rezeki nomplok, maka beberapa hal bisa terjadi. Apa saja?

Dana cepat habis

Dana bisa langsung dihabiskan, tidak terkontrol dengan baik, lantaran kaget dan merasakan euforia berlebihan mendapat rezeki nomplok. Hal ini sesuai dengan teori pada psikologi keuangan yang sudah dijelaskan di atas, yang menyebutkan bahwa emosi memang sangat menentukan dalam setiap pengambilan keputusan keuangan.

Pemakaian tidak tepat sasaran

Bingung dan kaget dengan rezeki nomplok yang didapatkan, warga Tuban mulai konsumtif memborong mobil mewah, sepeda motor, dan barang lainnya. Padahal banyak prioritas yang bisa dipilih selain barang-barang tersebut, terutama yang menyangkut masa depan.

Di sini, kita lagi-lagi bisa melihat bukti nyata, bahwa being rich adalah sangat berbeda dengan being wealthy, seperti teori psikologi keuangan yang dipaparkan di atas.

Memunculkan masalah keuangan baru

Saat uang simpanan sudah habis dan tak memiliki pekerjaan setelah pembebasan lahan, warga Tuban akhirnya hanya bisa mengandalkan hewan ternaknya untuk dijual dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Padahal, jika uang miliaran itu dapat dikelola dengan baik, tentu saja keuangan akan aman. Bahkan sampai pensiun.

Kasus lain, misalnya mendapatkan pesangon setelah mengalami PHK. Jika uang pesangon tidak dikelola dengan baik, bisa menyebabkan kita jadi berutang untuk hidup sehari-hari. Padahal penghasilan sedang menurun, bahkan hilang. Pastinya, hal ini akan memunculkan masalah keuangan baru yang lebih besar, bukan?

Yuk, Kelola Rezeki Nomplok dengan Bijak!

Biasanya orang yang menerima rezeki dadakan akan rentan terkena sudden wealth syndrome. Sindrom ini adalah tindakan gegabah setelah ketiban rezeki nomplok dengan uang bejibun. Uang kaget ini benar-benar memberikan dampak ‘kaget’ pada penerimanya.

Misalnya merasakan syok karena menjadi Orang Kaya Baru (OKB), atau tidak punya prioritas yang pasti karena merasa punya banyak uang. Agar terhindar dari dampak buruknya mengelola keuangan seperti kasus kampung miliarder Tuban, berikut kiat-kiat mengelola rezeki nomplok agar tidak terkena sudden wealth syndrome.

Sebenarnya, dengan memahami tentang psikologi keuangan saja bisa menjadi solusi untuk mengelola uang rezeki nomplok.

Hal-hal yang bisa kita lakukan antara lain:

1. Bersyukur dan merasa cukup dengan rezeki yang diterima
2. Merealisasikan rasa syukur tersebut dengan bijak dalam membelanjakannya. Yaitu dengan menyusun rencana keuangan untuk memanfaatkan rezeki nomplok tanpa dikuasai emosi, utamanya untuk membayar utang-utang terlebih dulu. Tak hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga dikelola untuk jangka waktu yang lebih panjang
4. Safety net yang cukup seperti dana darurat dan asuransi yang sesuai dengan kebutuhan.
5. Uang yang banyak seharusnya dibiarkan “bekerja”, sehingga bisa memberikan penghasilan lain berupa passive income untuk kita
Miliki,

Misalnya dengan dibelikan Reksa Dana ORI024 yang lagi ditawarkan oleh kementerian keuangan dari tang gal Senin, 9 Oktober 2023 kemarin hingga 2 November 2023 pukul 10.00 WIB, atau dalam 25 hari masa penawaran. ORI 024 menawarkan imbal hasil tinggi yakni 6,1% untuk ORI024 tenor 3 tahun atau ORI024T3 dengan maksimal pembelian 5M dan kupon 6,35% untuk ORI024 tenor 6 tahun atau ORI023T6 dengan maksimal pembelian 10M

nah kalau diasumsikan dengan uang kaget dari warga Tuban yg 18M tadi, 10M misalnya dibelikan ORI023T6 itu perbulannya bisa dapat Rp47.628.000 selama 6 tahun, dan ORI ini pokok nya dijamin Pemerintahan Jadi diakhir tahun ke 6, 10 M nya dikembalikan ke buyer.

bersumber dari https://ilovelife.co.id/blog/kiat-kelola-rezeki-nomplok-dalam-ilmu-psikologi-keuangan/– dan disadur kembali oleh Raissudin Dina.

—————————————————————————————————————————————————————————————-

Mulailah dengan kebiasaan baik hari ini sekecil apapun itu karena kamu berharga.

Melengkapi support system improve literasi keuangan, kamu bisa join WAG Power People dimana kamu bisa berinteraksi langsung dengan Financial Planner & Advisor KamuPunyaPower

Explore Power People Community : https://kamupunyapower.com/power-people-community/

Jika kamu ingin benar2 memperbaiki money psikologi internal diri kamu, Kamupunyapower punya workshop financial yang diadakan selama 3 hari dimana workshop ini diadakan sebulan 2 kali, kamu akan belajar mulai dari kebiasaan baik tentang uang, mengenal hubungan diri sendiri dan uang, dan tentunya cash flow management, risk management dan investment

Explore Kelas Keuangan KamuPunyaPower : https://kamupunyapower.com/special-classes/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *